Probiotik merupakan kelompok bakteri penghasil asam laktat baik, yang memberikan efek menguntungkan bagi tubuh. Probiotik apabila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup memadai dapat memperbaiki keseimbangan mikroflora mikrobiota intestinal pada saat masuk dalam saluran pencernaan serta memberikan efek perubahan berat badan. (Shitandi et al., 2007; Dommels et al., 2009; Weichselbaum, 2009).
Obesitas saat ini menjadi salah satu masalah gizi utama di dunia dan juga di Indonesia. Data WHO tahun 2014 menunjukkan sekitar 39 % penduduk dewasa usia di atas 18 tahun di dunia mengalami kelebihan berat badan dan sekitar 13 % diantaranya mengalami obesitas (WHO, 2016). Di Indonesia diperkirakan terdapat 11.9% anak dengan gizi lebih, walaupun di Sumatera Barat angka ini ditemukan lebih rendah, sekitar 7.3%. Namun demikian, angka gizi lebih ini cenderung akan meningkat saat dewasa. Saat ini obesitas pada dewasa ditemukan pada angka 26.2% (Riskesdas, 2013).
Banyak faktor yang berkaitan dengan terjadinya obesitas, seperti genetik yang terkait dengan ekspresi sejumlah gen di dalam tubuh, faktor perilaku yang sebagian besar berhubungan dengan pola makan dan aktivitas fisik dan gangguan keseimbangan mikroflora intestinal (Backhed et al., 2004; Tehreni et al., 2012).
Beberapa data penelitian memperlihatkan bahwa mikrobiota intestinal berperan dalam regulasi lemak dan hemostasis energi dan sangat berkaitan dengan progresitivitas obesitas (Parekh et al., 2014). Komposisi mikrobiota dalam intestinal itu sendiri dipengaruh oleh banyak faktor, seperti karakter genetik dan umur serta sejumlah factor eksternal, seperti diet, konsumsi prebiotik dan probiotik, serta obat, khususnya antibiotika (Tsai et al., 2014; Chen et al., 2014).
Perhatian terhadap makanan yang menyehatkan semakin meningkat, terutama sumber makanan dengan kadar lemak rendah dan makanan yang mengandung probiotik. Di Indonesia, produk makanan kesehatan sudah mulai dikenal sejak tahun 90-an dan produksinya setiap tahun semakin meningkat (Surono, 2004). Berbagai jenis makanan kesehatan telah beredar di pasaran, diantaranya yogurt, yakult, biskuit, es krim, susu bubuk yang difortifikasi dengan fruktooligosakarida (FOS) dan inulin sebagai prebiotik atau difortifikasi dengan kombinasi prebiotik dan probiotik (sinbiotik) (Purwati dan Hariyeni, 2007).
Beberapa produk susu telah dilaporkan mengandung bakteri probiotik, jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh (FAO/WHO 2002). Salah satu makanan yang mengandung probiotik adalah dadih. Dadih adalah produk olahan susu kerbau yang terdapat di daerah Sumatera Barat, merupakan makanan spesifik yang berwarna putih dan hampir menyerupai tahu, dapat juga menyerupai kefir, dapat dipotong dan dimakan dengan menggunakan sendok (Suryono 2003). Pemanfaatan produk pangan lokal seperti dadiah dan berbagai jenis pangan sumber probiotik lainnya yang aman dikonsumsi dapat dijadikan salah solusi untuk pencegahan masalah obesitas.
Seminar diselenggarakan oleh Pusat Studi Kesehatan dan Gizi Universitas Andalas bekerja sama dengan Departemen Gizi FKM Unand, Bagian Gizi FK Unand dan Program Studi Teknologi Pangan Universitas Bina Nusantara. Seminar ini menghadirkan pendekatan baru untuk terapi gizi dan kesehatan dalam rangka menanggulangi penyakit kelebihan gizi, yang akan diberikan oleh para ahli dibidangnya.
Seminar ini bertujuan meningkatkan pengetahuan baru tentang terapi gizi dan kesehatan dalam rangka menanggulangi penyakit kelebihan gizi.
Informasi selengkapnya dapat dibaca dan dilihat disini